Because
of love, I like you….
Because of love, I always beside
you……..
Because of love, I’ll do anything
for you…….
Because of love you’d give it
everything you got and won’t think twice….
Because of love,love,love and
love…..
Itulah kata-kata yang tepat buat
aku. Mencintaimu,menyayangimu sepenuh hati. Walaupun aku tahu kamu tak pernah
menganggap cintaku ini. Karena aku mengerti kamu telah ada yang memiliki dan
tak pantas aku berharap terlalu banyak padamu. Kamu hanya menganggap aku
sebagai sahabatmu,Khara Kartika maafkan aku yang diam-diam mencintaimu.“Aku
terdiam di sudut ruangan kelas ini,sambil menatap wajahmu,Khara. Baru pertama
kali ini aku merasakan perasaan yang begitu dalam pada seorang wanita. Teman
kelas sebelah,tepatnya anak kelas 11 IPA. Benar-benar perasaan yang gila buatku
!!”
Ketika aku hendak menuju ke luar
kelas,tiba-tiba ada suara yang memanggil namaku. “Marlin,,..” sapanya. Akupun
menoleh kea rah suara itu. Dan ternyata yang memanggilku adalah Khara. Akupun
membalasnya. “hai,,Ra,” balasku. Aku tidak mungkin menanyakan Khara mengapa
datang ke kelasku. Karena aku tahu sendiri Khara datang ke kelasku pasti sedang
mencari Ryan pacarnya. Ryan itu adalah teman sekelasku. Walaupun tidak begitu
akrab dengannya,tapi yang namanya pacar sahabat sendiri lama-lama pasti bisa
jadi teman main bareng. Maklum Ryan sendiri yang minta dicomblangin dengan Khara
sahabatku sejak kecil.
“Mau
kemana kamu?” tambahnya. “Niee, mau ke kantin, ikut gaa?? Balasku. Kharapun
tersenyum mendengar ajakannku dan sekilas menoleh Ryan. ‘Gaa dee, duluan aja “
jawabnya. Aku sendiri melihat kecemburuan di wajah Ryan. Sepertinya ia muak
melihat persahabatan aku dan Khara. “ Oh ya udah aku duluan,, selamat
berpacaran yaa “ godaku kepada mereka sekedar untuk menenangkan suasana hati
Ryan.
Semakin hari semakin dalam perasaan
ku pada Khara. Rasa cemburu itu selalu datang disaat melihat Khara dan Ryan
berduaan. “ sialll bakso ini rasanya mendadak pedas seperti hatiku!! Aku kesel
liat kamu !! HUUUchh !!”gerutuku dalam hati.
Tiba-tiba
ada seseorang yang menepuk bahuku dari arah
belakang sampai aku terkaget. “ Wooeeee!!!
Marliinnn!! Ngapain loe makan bakso sambil pasang muka serem gitu??” ternyata
yang mengagetkanku itu adalah Dira,teman sekelasku juga,anak 11 IPB. Dan diapun
ikut duduk di sebelahku sambil memesan makanan. “Gpp sicchh,, loe aja salah
liat,orang gue nikmatin niiee bakso kok!!” sangkalku. “Alaahhh,, jangan nge’les
gitu deh loe, gue tau perasaan loe saat ini,kenapa” tebaknya. “Emang apa?? Sok
tau loe!!” balasku dengan penuh penasaran,takut Dira tahu perasaan aku kepada Khara,sahabat
aku sendiri. “Loe kesel karna sampai sekarang loe gaa punya pacar,kan??hahaha”
ledeknya. Perasaan aku sangat kesel setelah mendengar ejekan dari Dira,tapi
sedikit lega karena dia tidak tahu apa yang sebenarnya aku rasain sekarang walaupun
Dira adalah teman duduk aku di kelas. “Eh,, asal loe tau ajj yaa, gue ini
banyak fans !! di kelas ajj ada empat cewek yang suka sama gue, apalagi di
luaran, masih banyak !” jawabku dengan bangganya. Karena emang itu terjadi.
Hehe. “Marlin si cowok pintar berbahasa Inggris, senyum manis dan mata sedikit
sipit dan penampilanku yang memukau kaum wanita. Walaupun kulit sawo
matang,tapi tetap menarik hati,hehehe”.
Dira
tertawa mendengar pengakuanku. Dan menghentikan makannya sebentar untuk
membalas kata-kataku. “ Woe bro, gue tau loe banyak yang naksir,, Gak pernah ditolak
sama cewek, tapi ngpain loe ampe karang masih ngjomblo?? Lo gaa bosen apa,, gue
aja jomblo semenit dah bosen !” balasnya sambil tertawa cekikikan dan
melanjutkan makannya. Ya benar kata Dira, ini sungguh menjadi pertanyaan buat
aku, padahal banyak cewek yang suka sama aku tapi mengapa aku tidak respon sama
mereka. Padahal kalau dilihat-lihat mereka ga jelek-jelek amet. Cantik-cantik,
bahkan ada yang mirib sama artis Nikita Willy hihi, namanya Wiwien adik
kelasku. Tapi,, mungkinkah karena aku masih berharap cintanya Khara?? Ini masih
menjadi pertanyaan buat aku. Dira yang melihat aku bengong dalam pikiran itu,
mendadak mengagetkanku. “Wooee Marlin!! Napa loe bengong?” aku tidak
menghiraukan kata-kata Dira dan akupun beranjak pergi dari kantin tanpa pamit
dengannya. “Dasar aneh!!ckckck”. Balas Dira.
“TET,,
TET,,TET,,” Bel istirahatpun usai dan saatnya masuk kelas menerima pelajaran
Bahasa Jerman yang sangat membosanku bagiku. Karena yang aku kuasai hanya
beberapa bahasa yaitu Bahasa Jepang,Inggris dan Indonesia. Gaa sombong Hehehe J
Materi demi materi diberikan kepada
kami,saat menerima pelajaran Bahasa Jerman. Tapi tak satupun dari sekian materi
yang disampaikan,tercerna olehku. Mengapa sebab?? Yaahh karena pikiranku
melayang terus di wajah cantikmu,Khara. Senyumanmu membuat aku terpana dan tak
berdaya seperti sedang disuguhkan gula dalam sekarung beras. Ahhh pikiran yang
gila dan super alay ini harus ku buang jauh-jauh. Tapi, “ Ohh Taaaakkk
Bisaaaaaa!!!” teriakanku tanpa sengaja keluar dan membuyarkan pikiran
teman-temanku yang sedang serius menerima pelajaran Bahasa Jerman. Dan akhirnya
………….
“MARLIIINNN!!!!!! KELUAR KAMUUUU!!!”
Seru Pak Herman,guru Bahasa Jerman itu. “Hahahahahahahahahaaaa !!” semua
teman-teman menertawakanku. Huuhhh .. “Khara,,, Khara,,, segitu besar pengaruh
cintamu, “ ucapku sendiri sambil terus berjalan ke luar kelas karna mendapat
teguran dari Pak Herman. Saat itu juga langkahkupun menuju kea rah toilet
pria,tanpa sengaja aku bertemu dengan Khara yang sedang menunggu temannya yang
sedang berada di dalam toilet wanita. Kebetulan jarak antara toilet pria dan
wanita berdekatan. Like dreaming in the day. Bertemu dengan pujaan hati.
Yuhuuuu ^:^
Akupun langsung menyapa Khara,”Hay
Ra,nunggu siapa?” sapaku sekedar basi-basi. Padahal aku sendiri tahu Khara
sedang menunggu temannya. “ Hay, Marlin awas ngintip yaahh” balasnya sambil menggoda
dengan senyuman. “Adeeecchhh,,, semakin buat aku jatuh cinta dan mengapa aku
jadi gugup begini?” pikirku dalam hati sambil membalas senyuman Khara tersipu
malu. “ Hmmmm,, siapa yang ngintip,Ra.. paling cuma liat dikit ,, hihihihi,, “
balasku dengan candaan. “Ahh kamu ini bisa aja, hihii sama saja itu tauu,,
huuuwww !” balasnya dengan senyuman geli. Aku senang melihat Khara yang selalu
tersenyum,seolah-olah tak pernah ada masalah dalam hidupnya. Dia seperti tak
mau membeberkan masalah yang dihadapinya. Dengan wajah periangnya itu,mampu
menutupi semuanya. Aku kenal sekali sifat Khara. Dan aku harap dia tidak sedang
lagi ada masalah akhir-akhir ini, karena semenjak dia berpacaran dengan Ryan,
diapun jarang berbagi denganku. Yaahh.. mau gimana?? Aku mengerti keadaan
seseorang yang sudah memiliki pacar. Terdapat batasan-batasan tertentu. J
Dua minggu telah berlalu………………
Sudah dua minggu ini, aku sama
sekali tak pernah berkomunikasi dengan Khara. Entah itu lewat handphone maupun
secara langsung menyapanya. Aku bingung mengapa cinta membuat seseorang lupa
akan sahabat sejatinya. Apakah pantas seperti itu?? Aku sadar bahwa ketika kita
mencintai seseorang,kita terkadang melupakan segalanya. Mungkin persahabatanku
dengan Khara akan berakhir sampai disini. Dan apakah aku juga harus melupakan
sahabatku sendiri dan memutuskan untuk mencari sesosok orang yang juga
mencintaiku??
Ketika itu,pulang sekolah aku mampir
sebentar ke ruang perpustakaan. Disana aku melihat Khara duduk seorang diri.
Tampaknya tidak sedang membaca buku,mengakses internet apalagi, ataupun
mengerjakan tugas yang biasanya dilakukan oleh anak-anak jika berkunjung ke
ruang perpustakaan. Terlihat Khara sedang duduk termenung sambil memegang
handphonenya. Akupun memberanikan diri untuk menghampirinya. Ketika aku
mendekat dan melihat wajah Khara, terlihat air matanya bercucuran jatuh di
kedua pipinya. Akupun terkaget dan Kharapun juga terkaget melihat kedatangan
aku yang tiba-tiba dan segera menghapus air matanya. “Khara??? Kenapa km
nangis??” Khara tetap diam saja dan terus berusaha menghapus air matanya yang
tiada henti terjatuh. “ Khara,, pliss cerita sama aku, kenapa km?? ada masalh
apa??” tambahku lagi sambil berusaha menghapus
air mata sahabatku ini dengan kedua ibu jari tanganku. Kharapun angkat bicara,
“ Aku putus dengan Ryan !!” jawabnya sambil menatap mata ku penuh dengan
kesedihan. “Apa?? Putus?? Kenapa??” Dalam hati aku sebenarnya senang mendengar
Khara putus dengan Ryan karena dengan itu aku bisa jadi semakin dekat dengannya
lebih dari sekedar sahabat. Tapi sejahat-jahatnya perasaan aku ini, aku sungguh
merasakan kesedihan hati Khara. Aku tak tega melihat Khara menangis. Sambil
menghela napas, Kharapun membalas, “ because of something “. Hanya kata-kata
itu yang dijawab oleh Khara. Dan kembali mengalihkan pandangannya kearah ku
sambil tersenyum kecil. Dalam hati aku berpikir masih saja Khara bisa tersenyum
dalam bad mood seperti ini. “Emang kenapa sih?? Kalau ada masalah cerita sama
aku. Apa mungkin dia khianatin kamu?? Biar aku cari saja dia !!” ucapku dan
bangun dari tempat duduk dan ingin berusaha mencari Ryan. Namun Khara menarik
tanganku dengan cepat dan berkata, “SSsstttt ,,, ini tow perpus, km jangan ribut
donk! Hmmm.. “. Akupun kembali duduk disamping Khara. “Aku gaa pernah
dikhianati kok, pokoknya ada sesuatu deehh.. tapi aku gaa bisa cerita sama km,
karna ini masalah pribadi,Marlin “. Kharapun memeluk lengan kiriku sambil
melepas senyuman kepadaku. “Iya, tapi aku gaa mau km tertutup gitu sama aku,Ra.
Kita kan sahabatan, kenapa coba mesti tertutup. Km harus open kalau sedang ada
masalah dengan orang lain. Hmmm kamu beda sekarang !” balasku dengan muka
manyun seolah-olah tak bisa terima dengan perlakuan Khara dan merasa penasaran
mengapa hubungan mereka mesti ditutup-tutupi. Kharapun mulai mernyabarkan sikap
aku. “Marlin, sudahlah jangan dipikirin lagi, cwok itu banyak tau !! gaa dia
doank!! Semangatt!!” balasnya dengan nada ceria. Dalam hati aku berbisik, “Iya
Ra, aku adalah salah satunya. Cowok yang sekarang mengharap cintamu”.
Sebulan telah berlalu. Pada akhirnya
Khara sudah bisa melupakan Ryan yang sudah memutusinya. Ntah mengapa?? Sampai
sekarang ini aku masih belum tahu. Tapi, whateverlah yang penting Khara kembali
bersama dengan aku. Happy poouuulll !!1 ^,^
Suatu sore,aku dan Khara jalan-jalan
ke pantai. Kita berdua bersenang-senang sepuasnya. Jujur, ntah mengapa perasaan
senang selalu ada jika aku bersama dengannya. Hanya dia yang mampu melakukan
ini kepadaku. Apakah sekarang saatnya aku mengutarakan perasaanku sama Khara?. Saat
itu, ketika kita tengah duduk bersantai di atas pasir putih pantai ini. “Ra,
aku mau bilang sesuatu sama km,”. Khara menoleh sekilas ke arahku lalu
melanjutkan memandang indahnya deburan ombak di pantai ini. “ Ada apa,Lin??
Serius banget kayaknya hehe” godanya. Sebelum aku ingin mengatakannya, rasanya
jantung ini berdetak dengan kencangnya. Ohh My God, I’m Nervous !!! “Begini,
Ra..” sambil menghela napas. “Hayooo cepetan jawab! Lama banget !!” tampakya Khara tak
sabar menunggu kata-kataku. Semakin membuat aku gugup. Akhirnya akupun
memberanikan diri ingin mengatakannya. “ Begini Ra, aku se….”. Kata-kataku
terpotong ketika saat yang bersamaan Handphone Khara berbunyi. “Bentar ya, ada
sms masuk” ucapnya sambil membuka pesan yang diterima. “ Siapa itu??” tanyaku
dengan sedikit perasaan kesal dan jengkel. Karena gara-gara sms itu,kata-kataku
jadi tertunda. “ Oh.. ini Mario!” jawabnya. “ Mario?? Siapa lagi tow,Ra”.
Perasaanku sudah tak enak lagi rasanya. Kharapun memperlihatkan foto seorang
laki-laki yang sepertinya tampan
dan kulitnya yang putih. “Aku kenal dia lewat twitter lho ,, cakep kan ??’
jawabnya dengan perasaan senang dan tampak senyuman yang terpancar dari
wajahnya. Mendengar itu semua, rasanya aku ingin berteriak sekencang-kencangnya
atas rasa kekecewaanku. Aku tak menjawab sama sekali kata-kata Khara. Hanya
diam dengan rasa kecewa dan ingin menangis, tapi aku harus menahannya di depan
Khara. “ Maap ya, Lin aku belum sempat cerita, soalnya baru kenal beberapa
minggu dan dia itu anaknya baik lho. Dan dia juga berasal dari kota kita. Anak
kuliahan lagi, kuliah di Universitas ternama di kota kita. Keren kan??”. Khara
tampak merasa senang tanpa menyadari apa sebenarnya sesungguhnya perasaan aku
kepadanya. Tanpa mau menoleh Khara, aku pun membalas ucapan Khara. “ Oh,, bagus
donk, tapi km harus tetap berhati-hati saja, jangan sampai km lagi patah hati,
seperti yg km alamin sama Ryan” balasku dengan senyum memaksa kepadanya.
Anggukan Khara yang polos itu,tampaknya mengerti dengan apa yang aku katakan.
Dan diapun membalas,” Ok Marliinn, sahabat aku tersayang. Aku seneng deh punya
sahabat kayak kamu,”. Dan diapun memeluk lenganku dan bersandar di pundakku.
Hal ini memang sering dia lakukan kepadaku. Sepertinya Khara lupa dengan apa
yang akan hendak aku bilang. Aku semakin merasa bahwa cintaku tak tertuju
padamu. Dan aku hanya seorang sahabat di matamu. Air matapun mengalir membasahi
pipiku,tanpa sepengetahuan Khara.
*************************
TET… TET…TET.. Bel pulang pun
berbunyi. Semua teman-temanku meninggalkan ruang kelas 11 IPB ini. Hanya aku
dan Ryan yang masih berada di dalam kelas. Inilah kesempatan buat aku untuk
menanyakan kepada Ryan apa alasan mereka putus. Akupun menghampiri Ryan dari
arah belakang. “Ryan, gue boleh nanyak sesuatu gaa sm loe??”.Ryanpun menatap
sekilas wajahku tanpa menjawab apa-apa sambil terus memasukkan buku-buku
pelajaran dan laptopnya. “Ryan, gue nanyak nichh boleh gaa sich??”. Aku sedikit
merasa kesal. Dan akhirnya Ryanpun angkat bicara. “Gue tau loe mw nanyak
tentang gue napa putus sama Khara kan??” jawabnya langsung menebak perasaanku.
Akupun mengangguk. “Gue yang mutusin kok, kenapa?? Loe mw mukul gue?? Silahkan
!” tambahnya sambil menyodorkan pipi kanannya kearah tanganku. “Apa-apaan sih
loe,, haha,, gue cuma nanyak baik-baik kok,sapa tau gue bisa nyatuin loe lagi.
Tapi klo loe yg berkhianat, uupppsss sorry gue tanpa disodorin muka loe udah
bonyok !”. Ryanpun berdiri dari tempat duduknya dan bertatap langsung dengan
wajahku. “Asal loe tau ya, gini-gini gue gaa pernah khianatin cwe, dan ini
sebenarnya gaa bisa dibicarakan sama loe, karna Khara gaa akan ngijinin gue
cerita hal ini sama orang lain!”. Akupun semakin penasaran dengan permasalahan
mereka. Aku berusaha membujuk Ryan agar mau menceritakannya. Ryan diam beberapa
saat. Hanya helaan napasnya yang terdengar. “Ok, gue akan cerita, sebenarnya
Khara gue putusin karena dia mengidap penyakit gagal ginjal!!”. Aku tercengang
seketika mendengar kata-kata Ryan. “HAAAhh??? Bangsat loe Ryan!! Hanya
gara-gara itu loe mutusin Khara!!”. Tak sadar aku memukul wajah Ryan. Ryan
kaget dan badannya setengah terjatuh lalu dia segera bisa membangunkan dirinya
sambil memegang pipinya sembari menahan rasa sakit akibat pukulan kerasku ke
wajahnya. “Kenapa Khara gaa pernah cerita ke gue?? Dan kenapa loe mutusin
dia??”. Aku hanya menunduk lemas dan tanpa terasa air mataku terjatuh. Rasa
amarah meliputiku. Marah dengan Khara dan Ryan. Tak kuasa memendam rasa
amarah dan kesal ini, tanganku
kupukulkan kearah meja Ryan,hingga tanganku berdarah. Ryan pun menyandarkan
tubuhku di tembok. Dengan penuh rasa menyesal melihat perlakuanku yg seperti
ini. “Marlin, kenapa loe begini?? Gue yg ngejalanin bukan loe!!”. Aku menatap
tajam mata Ryan. “Loe gaa tau,, gue CINTAA SAMA KHARA!!!gue SAYANG SAMA
KHARA!!!! Dan gue gaa mau ada orang yg nyakitin dia!!” seruku. “Apaaa????”. Ryan
tampaknya hanya tertunduk dan menyesali perbuatannya yg sudah meninggalkan
Khara hanya karena dia terkena penyakit gagal ginjal. “Marlin, gue tau gue
salah banget sma Khara. Sejujurnya gue tau klo gue gaa pantas dibilang cwo baik
buat dia. Gue egois jadi orang, gaa mau punya pacar penyakitan. Untuk itu gue
mutusin untuk menjadi temannya dia. Tapi,gue nyesel udah ngelakuin itu!!!”.
Tanpa terasa air mata Ryan membendung di matanya dan terjatuh membasahi
pipinya. “Air mata pengecut!!! Seharusnya loe gaa berbuat sekeji itu sama dia!!
Bukan ninggalin dia, tapi sayangi dia!!!”. Kata-kata itu terlontar keluar dari
mulutku dan sekali lagi aku membogem wajah Ryan sampai terlihat babak belur. Ryan
jatuh tak berdaya. Semakin membuat Ryan menyesal atas perlakuannya kepada Khara
sambil menahan rasa sakit akibat pukulanku. Ryan tak melakukan perlawanan
kepadaku. Hanya diam dan diam menahan rasa sakitnya.
“Masihkah
ada harapan buat gue untuk kembali nyayangin Khara??’. Aku hanya terdiam
mendengar pertanyaan Ryan. “Loe kan sahabatnya, pliss bantuin gue untuk bisa
balikan dengan Khara!!”. Akupun melangkah ke depan dan melewati Ryan. “loe
terlambat, Khara sudah PDKT dengan cwo lain !”. Ryan terkejut mendengar
kata-kataku. “Haahhh??? Secepat itu?? Siapa cwo itu?? Marlin,loe kan sahabatnya
loe pasti tau,pliss kasi tau gue!!”.
“Namanya
Mario, salah satu anak Universitas ternama di kota kita!!” tegasku dan langsung
pergi meninggalkan Ryan sendirian di ruang kelas tanpa pamit. Ryan sekilas menoleh
kepergianku. “Mario?? Cwo gaa bener itu dekat dengan Khara?? Gue harus
lindungin Khara sebelum terlambat dan gue akan nyatuin Khara dengan Marlin.
Karena loe,Marlin yg memang pantas nerima cinta Khara, bukan gue!!”. Ucapnya
dan diapun menyusul kepergian Marlin.
Saat
itu juga,aku tak sanggup menghadapi permasalahn hidupku yang seperti ini. Aku
tutup wajahku dengan boneka bantal kesayangan pemberian Khara sambil terus
menangis. Tak tahan menahan semua ini. Apalagi mendengar Khara sedang mengidap
penyakit gagal ginjal. Benar-benar terasa buntu pikiran ini. Akupun memutuskan
untuk segera menemui Khara di rumahnya tanpa sempat mengganti pakaian putih
abu-abuku ini.
Sesampainya aku di rumah Khara.
Kharapun langsung membukakan aku pintu. Dia tampaknya heran melihat mataku yang
sembab dan tanganku yang berdarah akibat luka pukulan tadi. Diapun segera
mengajak aku masuk ke dalam ruang tamunya yang kebetulan pada saat itu tak ada
orang tua Khara di rumah karena sedang bisnis ke luar kota. “km kenapa sih?? Km
habis berantem ya??”. Tanyanya penasaran sambil mengambilkanku obat dan perban.
Akupun tak kuasa menahan kesedihanku pada Khara hingga aku langsung memeluk
Khara. Dalam pelukannya itu aku menangis sejadi-jadinya. Sungguh aku tak kuasa
mengetahui Khara mengidap penyakit gagal ginjal. Pelukan Khara terasa hangat
tapi hatiku terasa dingin dan beku tak mampu mulutku berbicara. Khara
terheran-terheran dengan sikapku ini. Akhirnya kamipun lepas dari pelukan.
“Marlin, segitu besarnya ya masalh yang km hadapi?? Km cerita sama aku!”. Mulut
ini masih saja terasa sulit untuk mengucapkan satu kata saja. Kharapun
menenangkan aku dan mengambilkan aku minum. Dan akupun meminum air itu dengan
dibantu oleh Khara. Akhirnya akupun angkat bicara. “Ra,km bener kena penyakit
gagal ginjal??”. Khara terkejut mendengar pertanyaanku yang mendadak seperti
itu. Hanya kebisuaan yang ada. Diam tanpa kata mungkin itulah suasana yang
sedang terjadi saat ini. Hanya air mata yang menjawab pertanyaan itu. Aku tak
menyangka Khara bisa tabah dan seceria hari-hari kemarin. Dan mampu menutupi
hal itu dari aku, sahabatnya dari kecil. Aku tak mngerti mengapa ini bisa
terjadi. Apakah mungkin orang lain lebih penting dari aku. Atau sahabat
hanyalah sebuah ‘kata’?? Tapi tak mampu menghidupi kisah seseorang.
“Iya Marlin, aku dua bulan sudah
divonis penyakit seperti itu,dan aku harus menunggu seseorang yang mau ikhlas
dan rela ngedonorin ginjalnya buat aku. Tapi, kalaupun itu tak ada, aku siap
hidup dengan satu ginjal,Marlin. Ini mungkin sudah takdir dan aku selalu
chek-up ke rumah sakit”. Aku tak kuasa rasanya mendengar penuturan Khara. Dia
tahu perasaan aku saat ini. “Marlin, km jangan sedih, hidup ini kn sudah diatur
sama Tuhan. Kamu sebagai sahabat aku yg paling the best dan aku sayang,plis
don’t be sad,keep your smile. I’ll always beside you.” Kharapun melepaskan
senyumannya sambil membalut tanganku yang luka. Senyuman itu, adalah senyuman
yang terindah yang pernah aku lihat, karena senyuman itu menandakan suatu
ketegaran sesosok Khara. Mungkin aku salah menilainya. Karena Khara tak pernah
lupa dengan persahabatan kita, hanya saja dia tak ingin melihat orang lain menangis
karena dia.
Hari demi hari berlalu,aku ingin
mengurangi perasaan cintaku pada Khara. Hanya bisa mengurangi,tapi tak mampu
menghapus. Khara telah dengan Mario. Lelaki idamannya. Hanya saja,yang terpikir
olehku saat ini adalah penyakit Khara. Aku sungguh merasakan kasian padanya.
Aku rela melepas Khara dengan orang lain demi kebahagiannya.
Sementara itu…………….
“Ra,
km sayang kan sama aku?”. Kata-kata itu terlontar dari mulut Mario. Khara yang
saat itu tengah berduan dengan Mario di kamar apartement milik Mario. Padahal
hal ini tak pantas untuk dilakukan bagi pasangan yang belum menikah. Apalagi
Khara masih duduk di SMA dan Mario adalah mahasiswa. “Aku sayang sama km,Mario.
Km sudah mau menerima kekurangan aku ini. Penyakit aku. Bener kamu gaa akan ninggalin
aku??”. Khara berbalik tanya kepada Mario. “Iya sayang, untuk itu makanya kita
lakuin itu sebagai bukti cinta kita.” Mereka benar-benar terjebak dalam
kasmaran. Khara tidak sadar dan tidak berpikir untuk kedua kalinya sebelum
melakukan hal yang terlarang itu. Usia mereka masih belia. Tapi cinta membuat
Khara lupa akan segalanya. “Because of love, you won’t think twice and you’d
give it everything”. Maka hal yang tidak diinginkanpun akan terjdi pada kita.
Saat itu, Ryan tengah bertamu ke
rumah Khara. Dia ingin menyampaikan sesuatu kepada Khara tentang siapa
sebenarnya Mario. Tapi mungkin itu sudah terlambat buat Ryan. Khara telah
mengatakan yang sebenarnya kepada Ryan bahwa Mario adalah cinta sejatinya.
“Apaaa??? Km telah melakukan itu dengan dia???”. Ryan sangat terpukul mendengar
pengakuan Khara. Khara hanya mengangguk tanpa ada perasaan menyesal karena dia
yakin kalau Mario adalah cinta sejatinya. “Km salah,Ra!!! Km salah!!! Kenapa
semudah itu km serahkan kehormatanmu kepada Mario lelaki brengsek itu??? Dia
gaa cinta sama km!!!”. Ryan terus mengulang-ulang kata-katanya dengan penuh air
mata karena dia sudah terlambat memberitahu siapa sesungguhnya Mario itu.
Tiba-tiba Khara menampar pipi Ryan. ‘PLAAAKK!!”. Ryan terkaget. “Aooww.. “.
Rintihnya menahan rasa sakit akibat tamparan dari Khara. “Km yg cwok
brengsek!!! Km udah ninggalin aku!! Km gaa pernah mau nerima aku karena aku
sedang sakit!! padahal km tau kan aku saat itu cinta banget sm km!!” tegas
Khara. Air matapun membasahi kedua pipinya. Ryanpun menghampiri Khara dan
memeluknya dengan penuh rasa menyesal. “Ra, aku cinta sama km, maapkan aku.
Tapi, km gaa tau klo sebenarnya Mario itu cwok gaa bener!!”. Ryanpun
menceritakan siapa sebenarnya Mario itu kepada Khara. Mario adalah mantan kakak
perempuan Ryan. Banyak cwek yg sudah jadi korban kenakalannya. Bermodalkan
wajah tampan,dan ketika cwek-cwek sudah mau dengannya untuk diajak melakukan
sesuatu yg terlarang itu,maka dia akan tinggalin cwek tersebut tanpa alasan.
Kini Khara menangis penuh dengan rasa penyesalan yang amat sangat mendalam. “Ra,
seharusnya km berpikir matang-matang untuk hal tersebut,, tapi aku gaa akan
terlalu menyalahkanmu,, ini adalh pelajaran buatmu ke depan,, dan km tau, klo
ada seseorang yg sangat mencintaimu melebihi cintaku padamu!”. Khara menoleh
Ryan dengan penuh pertanyaan. “Siapa??”. Ryan menghela napasnya dan berkata,
“Marlin,sahabatmu!” tegasnya.
*************……….***************
Sementara
itu di tempat aku berada.........
Aku
benar-benar tak sanggup menghadapi ini semua. Rasanya aku ingin menghilang dari
kehidupan ini. Sebenarnya kebahagiaan selalu datang padaku, tapi ntah mengapa
aku malah mencari kerumitan dalam hidup aku. Ini semua karena cinta. Tapi cinta
yang terpendam selama ini yang menyiksa aku. Ingin aku akhiri kisah ini.
apalagi setelah mendengar dari Ryan bahwa Khara telah berpacaran dengan cwok
brengsek yang dia anggap sempurna. Dan Ryan juga telah mengatakan perasaan aku
yg sebenarnya kepada Khara. Jika dipikir-pikir, coba saja Khara tidak hanya
menilai seseorang dari tampilan luarnya pasti sesuatu yang tidak diinginkan
tidak akan terjadi. Seperti apa yang telah terjadi pada dirinya kini, Khara rela
melepas kehormatannya kepada lelaki itu,hanya karena cinta. Tak terpikir dua
kali untuk tidak melakukannya. Tapi ya sudahlah, aku tak bisa berkata apa-apa.
Aku yakin jika kita sudah terlanjur mencintai seseorang,apapun akan kita
lakukan untuk dia, seperti aku yang tetap mencintaimu dengan keadaan kamu yang
seperti ini. Mungkin aku kecewa padamu,Khara. Tapi aku akan tetap menerima kamu
apa adanya, jika Tuhan mengijinkan aku nanti untuk bersamamu sampai akhir
hayatku.
Saat malam itu, aku berbaring di
atas kasur kamarku sambil memandangi langit-langit kamarku. Di sana pikiranku
melayang terus memikirkan keadaan Khara. Khara pasti menyesali perbuatannya.
Memang penyesalan akan selalu datang belakangan. Akupun menoleh photo aku dan
Khara yang terpajang di atas meja belajarku. Dan akupun mengambilnya sambil
menangis aku melihat photo itu. “Khara,mungkinkah kita akan bisa bersama??”.
Saat itu juga, Mbok Yum pembantuku memanggilku bahwa ada yang sedang mencari
aku. “Siapa,mbok??”. Mbok Yum hanya tersenyum kepadaku. Aku heran dengan sikap
pembantuku ini. Akupun segera menuju ke ruang tamu. Aku kaget seketika. Ketika
melihat Khara yang mencari aku. Dan berdiri menatap aku penuh rasa kesedihan.
“Khara??”. Aku pun mendekatinya. Dan sekarang aku telah berada di depan dia.
Saling berpandangan,diam beberapa saat dan tanpa rencana,air mata Khara mengalir
membasahi kedua pipinya. Aku tak tega melihat semua ini. Akupun memeluk Khara
dengan penuh rasa sayang. Seperti aku sedang memeluk seorang pacar yang sangat
aku cinta. Khara menangis di pelukan aku. Saat itu juga dia menyesali
perbuatanya dengan Mario. “Maapin aku,Marlin. Aku salah, kamu pasti marah sama
aku udah ngelakuin hal yang terlarang!!”. Khara seperti sedang mengadu kepada
seorang saudara. Hanya saudara dan
tak pernah menganggapku lebih.Akupun melepas pelukan
itu. Rasa amarah dan kecewa menyatu dalam perasaanku. Khara menyadari hal itu. Dia hanya
menunduk menangis penuh penyesalan. Dalam keadaan seperti ini, aku tak boleh
egois, bagaimanapun keadaan Khara sekarang ini, aku harus terima. Itu bukan
menjadi pertimbangan dalam bercinta.Ketika kita bertemu seseorang dalam keadaan
seperti ini. Berkali-kali mereka
bercinta pasti sesuatu yang terlarang pernah mereka lakukan. Ntah dengan pacar
pertama,kedua,ketiga atau mungkin pada cinta yang terakhir seseorang itu akan melakukan
sesuatu yang terlarang itu, tapi jika
seseorang itu masih sanggup menjaga dirinya. Meskipun berkali-kali cinta datang
padanya. Akupun kembali memeluk Khara.dan Khara membalas pelukanku. Aku memeluk
Khara dengan dekapan yang begitu erat dan hangat seakan-akan aku tak mau
melepas Khara. begitupun dengan Khara. “Aku akan selalu mencintaimu,Ra. Apapun
itu aku akan ada di sampingmu. I love you
just the way you are!! ”. Dan Kharapun
membalas kata-kata itu dengan,”I love you too,Marlin. Although you find me not
perfect, but I want you are my true love,”. Setelah mendengar kata-kata itu.
Seperti mimpi buatku Khara telah menjadi bagian hidupku yang akan menemani
hari-hariku. Akupun mencium manisnya bibir Khara. awalnya Khara ragu dan dia
pun membalas ciuman itu. Dalam ciuman itu, aku dan Khara menangis. Menangis
penuh bahagia tanpa mempedulikan sekitarnya.
………………………………………………
Sebulan sudah aku menjalani cinta
ini dengan Khara. pacarku tersayang. Tapi ada sesuatu yang membuat perasaanku
sedih. Karena semakin hari, semakin berbahaya penyakit Khara. dia harus segera
butuh transparansi ginjal dari orang lain, tapi sampai saat ini belum ada
satupun yang rela mentransparansikan ginjalnya kepada Khara. Akupun memutuskan
untuk mengunjungi rumah sakit tempat Khara chek-up setiap harinya,tanpa
sepengetahuan Khara. Aku meminta dokter yang menangani penyakit Khara untuk
mengijinkan aku menjadi pendonor ginjal buat Khara. Tapi dokter belum berani
mengijinkannku melakukan seperti ini, sebelum ada pihak keluarga aku yang
setuju. Karena ini terlalu berbahaya buat aku kedepan. Bagaimana bisa aku
meminta ijin dengan kedua orangtuaku. Sejak duduk di bangku SMP,orangtua ku
meninggal dunia karena kecelakaan pesawat. Semenjak itu aku dirawat oleh nenek
dan kakekku di Belanda selama beberapa bulan. Setelah itu akupun memutuskan
untuk kembali
ke Indonesia dan tinggal hanya dengan pembantuku,Mbok Yum yang sejak aku kecil
sudah bekerja di rumahku. Akupun memutuskan untu menyuruh Mbok Yum menjadi waliku sebagai ijin aku
mendonorkan ginjalku kepada Khara. Mbok Yum awalnya sangat kaget dan sama
sekali tak mau melakukan ini. Dengan bersusah payah aku merayu dia. Dan
akhirnya diapun mau melakukan itu meski dengan rasa terpaksa dan teramat sedih.
Akhirnya dokterpun mengijinkan aku mendonorkan ginjalku kepada Khara. Aku
merasa bahagia dapat menolong Khara. Tapi aku meminta dokter untuk tidak
meberitahukan hal ini kepada Khara. Kepada siapapun itu. Aku tak mau melihat
Khara sedih apabila mengetahui hal ini. Dan lagi dua hari aku akan menjalani
operasi pengangkatan ginjal aku.
Saat itu aku sedang berduaan di
taman belakang rumahku dengan Khara. Aku senang banget berada di samping Khara.
Khara yang kini menjadi bagian dalam hidupku, menghapus cinta yang terpendam
yang selama ini menyiksa aku. Saat itu aku memeluk Khara dari arah belakang.
“Ra, aku sayang sama kamu,,,!”. Khara tersenyum mendengar kata-kataku. Segera
dia berbalik badan dan bertatap muka denganku. “Km tau gaa, aku adalah orang
yang paling beruntung bisa dicintai sama km,, km udah mau nerima segala
kekurangan aku,Marlin,”. Setelah kata-kata itu terucap dari mulutnya,air mata
Khara membendung di matanya. Akupun mencium kening Khara. “Iya, semua itu sudah
di atur Khara, semoga kita bisa bersama selamanya. Karena aku gaa ingin lepas
dari kamu,”. Khara hanya mengangguk dan tersenyum kepadaku. Akupun membalas
senyuman itu. “Oh yaa,Marlin,, kata dokter sudah ada orang yg mau ngedonorin
ginjalnya buat kau,”. Perasaan bahagia terpancar dalam diri Khara. Aku senang
melihat Khara akan sehat kembali. Walaupun aku merahasiakan ini semua dari
Khara,tapi inilah yang terbaik bagiku. Karena cintaku yang begitu dalam
padanya, aku rela melakukan semua ini padanya,semasih aku bisa lakukan.
Walaupun hal ini akan membahayakan kehidupanku kedepan. Dalam pikiranku, aku
rela menahan sakit daripada aku mesti melihat orang yang aku cinta dalam
keadaan sakit. “Oh yaa?? Bagus donk,Ra,”. Balasku seolah-olah aku tak tahu menahu soal ini. “Iya,Marlin,,, tapi
sayang banget nih,,,”. Khara tidak melanjutkan kata-katanya. “Tapi kenapa,Ra??”balasku. Kharapun
membalasnya,”Tapi dokter tidak mau memberitahu aku siapa yg udah rela
ngedonorin ginjalnya buat aku, aku sedih jadinya aku gaa tau dan berterima
kasih kepada orang itu,”. Kesedihanpun kini menghampiri perasaannya. Akupun
berusaha menghiburnya. “Sudahlah,Ra,, km jng terlalu mikirin itu, mungkin orang
itu gaa mau pamer,, dia sudah ikhlas melakukan itu semua. Km jng terlalu
mikirin itu,yahh,, senyum donk ,,”. Khara pun tersenyum setelah mendengar
kata-kataku. “Iya, tapi km jng cemburu yahh ada ginjal orang lain di tubuh
aku,, hihi”. Godanya kepadaku. Setelah mendengar balasan yang seperti itu,
perasaanku sangat lega. Aku bahagia melihat Khara bahagia. Akupun membalas
godaan Khara sambil mencubit pipi Khara dengan gemasnya.
Hari ini aku menjalani operasi pengangkatan
ginjalku. Hal ini benar-benar mampu aku rahasiakan dari Khara. Sampai waktu
tiga hari aku dirawat di rumah sakit. Sebenarnya dokter belum mengijinkan aku
pulang,tapi aku memilih untuk dirawat di rumah saja untuk mengurangi rasa
kecurigaan Khara denganku. Akupun mengatakan kepada Khara aku mengidap sakit
maag biasa. Dan aku juga harus menyembunyikan bekas operasi aku darinya.
Hari demi hari berlalu. Kini saatnya
Khara akan menjalani operasi. Aku selalu senantiasa menemaninya. Berkat doa
yang selalu aku panjatkan kepada Khara dari sebelum dan sesudah dilakukannya
operasi,akhirnya operasipun berjalan dengan lancar. Betapa senang hatiku kini.
Bagaimana tidak, ginjalku kini ada di dalam tubuh Khara. Meski bahaya akan
datang menyerangku. Mungkin Tuhan berkata lain, pada akhirnya Khara tau akulah
yang mendonorkan ginjal untuknya. Setelah dia membaca diary yang aku tulis
seminggu setelah aku menjalani pengangkatan ginjalku. Khara sangat terpukul.
Dia terlarut dalam kesedihan. Dia tidak menyangka ntah mengapa aku sampai rela
mendonorkan ginjalku kepadanya, padahal hal itu nantinya akan membahayakan
diriku. Berkali-kali aku menghiburnya. Ini semua aku lakukan hanya demi cinta.
Karena cinta aku melakukan ini, aku sayang dan cinta sama Khara. Khara terus
menangis dalam pelukanku. “Kenapa km mau ngelakuin ini,padahal aku kan bisa
menunggu lebih sabar lagi orang yg mau ngedonorin ginjalnya sama aku tanpa
harus km orangnya,”. Sedih yang tak kuasa untuk ditahan. Khara memeluk erat
tubuhku. Dia tidak menginginkan aku melepaskan pelukan ini. “Ra, km jng
menangis,, aku gpp kok, aku rela ngelakuin ini, aku masih kuat ketimbang km yg
lemah,, “. Akupun menghapus air mata Khara dan mencium kening Khara. Setelah
lama aku menghiburnya akhirnya Khara berhenti menangis,meskipun berat menerima
ini semua.
Aku akan selalu ada untukmu saat
suka dan duka. Apapun yang terjadi akulah yang pertama akan melindungimu. Aku
bahagia bisa melakukan hal ini sama kamu. Meski aku tahu,aku tak akan mampu
bertahan lama dalam dunia ini. Karena selain aku memiliki satu ginjal,dokter
telah memvonis aku telah mengidap penyakit kanker darah. Ntah kapan dan
bagaimana penyakit itu mendadak menyerangku. Tapi aku tak pernah takut,karena
ini semua sudah takdir dariNya. Dan aku berterima kasih kepadaNya, sebelum
nantinya nafasku akan berhenti,kau telah mepertemukan dan mempersatukan aku
dengan orang yang sangat aku sayang dan aku cinta,yaitu dia“Khara Kartika”.
“Because
of love,…………………………………………………………………………
SEKIAN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar