Kamis, 02 April 2015

'Because of love'



Because of love, I like you….
            Because of love, I always beside you……..
            Because of love, I’ll do anything for you…….
            Because of love you’d give it everything you got and won’t think twice….
            Because of love,love,love and love…..
            Itulah kata-kata yang tepat buat aku. Mencintaimu,menyayangimu sepenuh hati. Walaupun aku tahu kamu tak pernah menganggap cintaku ini. Karena aku mengerti kamu telah ada yang memiliki dan tak pantas aku berharap terlalu banyak padamu. Kamu hanya menganggap aku sebagai sahabatmu,Khara Kartika maafkan aku yang diam-diam mencintaimu.“Aku terdiam di sudut ruangan kelas ini,sambil menatap wajahmu,Khara. Baru pertama kali ini aku merasakan perasaan yang begitu dalam pada seorang wanita. Teman kelas sebelah,tepatnya anak kelas 11 IPA. Benar-benar perasaan yang gila buatku !!”
            Ketika aku hendak menuju ke luar kelas,tiba-tiba ada suara yang memanggil namaku. “Marlin,,..” sapanya. Akupun menoleh kea rah suara itu. Dan ternyata yang memanggilku adalah Khara. Akupun membalasnya. “hai,,Ra,” balasku. Aku tidak mungkin menanyakan Khara mengapa datang ke kelasku. Karena aku tahu sendiri Khara datang ke kelasku pasti sedang mencari Ryan pacarnya. Ryan itu adalah teman sekelasku. Walaupun tidak begitu akrab dengannya,tapi yang namanya pacar sahabat sendiri lama-lama pasti bisa jadi teman main bareng. Maklum Ryan sendiri yang minta dicomblangin dengan Khara sahabatku sejak kecil.
“Mau kemana kamu?” tambahnya. “Niee, mau ke kantin, ikut gaa?? Balasku. Kharapun tersenyum mendengar ajakannku dan sekilas menoleh Ryan. ‘Gaa dee, duluan aja “ jawabnya. Aku sendiri melihat kecemburuan di wajah Ryan. Sepertinya ia muak melihat persahabatan aku dan Khara. “ Oh ya udah aku duluan,, selamat berpacaran yaa “ godaku kepada mereka sekedar untuk menenangkan suasana hati Ryan.
            Semakin hari semakin dalam perasaan ku pada Khara. Rasa cemburu itu selalu datang disaat melihat Khara dan Ryan berduaan. “ sialll bakso ini rasanya mendadak pedas seperti hatiku!! Aku kesel liat kamu !! HUUUchh !!”gerutuku dalam hati.
Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahuku dari arah belakang sampai aku terkaget. “ Wooeeee!!! Marliinnn!! Ngapain loe makan bakso sambil pasang muka serem gitu??” ternyata yang mengagetkanku itu adalah Dira,teman sekelasku juga,anak 11 IPB. Dan diapun ikut duduk di sebelahku sambil memesan makanan. “Gpp sicchh,, loe aja salah liat,orang gue nikmatin niiee bakso kok!!” sangkalku. “Alaahhh,, jangan nge’les gitu deh loe, gue tau perasaan loe saat ini,kenapa” tebaknya. “Emang apa?? Sok tau loe!!” balasku dengan penuh penasaran,takut Dira tahu perasaan aku kepada Khara,sahabat aku sendiri. “Loe kesel karna sampai sekarang loe gaa punya pacar,kan??hahaha” ledeknya. Perasaan aku sangat kesel setelah mendengar ejekan dari Dira,tapi sedikit lega karena dia tidak tahu apa yang sebenarnya aku rasain sekarang walaupun Dira adalah teman duduk aku di kelas. “Eh,, asal loe tau ajj yaa, gue ini banyak fans !! di kelas ajj ada empat cewek yang suka sama gue, apalagi di luaran, masih banyak !” jawabku dengan bangganya. Karena emang itu terjadi. Hehe. “Marlin si cowok pintar berbahasa Inggris, senyum manis dan mata sedikit sipit dan penampilanku yang memukau kaum wanita. Walaupun kulit sawo matang,tapi tetap menarik hati,hehehe”.
Dira tertawa mendengar pengakuanku. Dan menghentikan makannya sebentar untuk membalas kata-kataku. “ Woe bro, gue tau loe banyak yang naksir,, Gak pernah ditolak sama cewek, tapi ngpain loe ampe karang masih ngjomblo?? Lo gaa bosen apa,, gue aja jomblo semenit dah bosen !” balasnya sambil tertawa cekikikan dan melanjutkan makannya. Ya benar kata Dira, ini sungguh menjadi pertanyaan buat aku, padahal banyak cewek yang suka sama aku tapi mengapa aku tidak respon sama mereka. Padahal kalau dilihat-lihat mereka ga jelek-jelek amet. Cantik-cantik, bahkan ada yang mirib sama artis Nikita Willy hihi, namanya Wiwien adik kelasku. Tapi,, mungkinkah karena aku masih berharap cintanya Khara?? Ini masih menjadi pertanyaan buat aku. Dira yang melihat aku bengong dalam pikiran itu, mendadak mengagetkanku. “Wooee Marlin!! Napa loe bengong?” aku tidak menghiraukan kata-kata Dira dan akupun beranjak pergi dari kantin tanpa pamit dengannya. “Dasar aneh!!ckckck”. Balas Dira.
“TET,, TET,,TET,,” Bel istirahatpun usai dan saatnya masuk kelas menerima pelajaran Bahasa Jerman yang sangat membosanku bagiku. Karena yang aku kuasai hanya beberapa bahasa yaitu Bahasa Jepang,Inggris dan Indonesia. Gaa sombong Hehehe J
            Materi demi materi diberikan kepada kami,saat menerima pelajaran Bahasa Jerman. Tapi tak satupun dari sekian materi yang disampaikan,tercerna olehku. Mengapa sebab?? Yaahh karena pikiranku melayang terus di wajah cantikmu,Khara. Senyumanmu membuat aku terpana dan tak berdaya seperti sedang disuguhkan gula dalam sekarung beras. Ahhh pikiran yang gila dan super alay ini harus ku buang jauh-jauh. Tapi, “ Ohh Taaaakkk Bisaaaaaa!!!” teriakanku tanpa sengaja keluar dan membuyarkan pikiran teman-temanku yang sedang serius menerima pelajaran Bahasa Jerman. Dan akhirnya ………….
            “MARLIIINNN!!!!!! KELUAR KAMUUUU!!!” Seru Pak Herman,guru Bahasa Jerman itu. “Hahahahahahahahahaaaa !!” semua teman-teman menertawakanku. Huuhhh .. “Khara,,, Khara,,, segitu besar pengaruh cintamu, “ ucapku sendiri sambil terus berjalan ke luar kelas karna mendapat teguran dari Pak Herman. Saat itu juga langkahkupun menuju kea rah toilet pria,tanpa sengaja aku bertemu dengan Khara yang sedang menunggu temannya yang sedang berada di dalam toilet wanita. Kebetulan jarak antara toilet pria dan wanita berdekatan. Like dreaming in the day. Bertemu dengan pujaan hati. Yuhuuuu  ^:^
            Akupun langsung menyapa Khara,”Hay Ra,nunggu siapa?” sapaku sekedar basi-basi. Padahal aku sendiri tahu Khara sedang menunggu temannya. “ Hay, Marlin awas ngintip yaahh” balasnya sambil menggoda dengan senyuman. “Adeeecchhh,,, semakin buat aku jatuh cinta dan mengapa aku jadi gugup begini?” pikirku dalam hati sambil membalas senyuman Khara tersipu malu. “ Hmmmm,, siapa yang ngintip,Ra.. paling cuma liat dikit ,, hihihihi,, “ balasku dengan candaan. “Ahh kamu ini bisa aja, hihii sama saja itu tauu,, huuuwww !” balasnya dengan senyuman geli. Aku senang melihat Khara yang selalu tersenyum,seolah-olah tak pernah ada masalah dalam hidupnya. Dia seperti tak mau membeberkan masalah yang dihadapinya. Dengan wajah periangnya itu,mampu menutupi semuanya. Aku kenal sekali sifat Khara. Dan aku harap dia tidak sedang lagi ada masalah akhir-akhir ini, karena semenjak dia berpacaran dengan Ryan, diapun jarang berbagi denganku. Yaahh.. mau gimana?? Aku mengerti keadaan seseorang yang sudah memiliki pacar. Terdapat batasan-batasan tertentu. J
            Dua minggu telah berlalu………………
            Sudah dua minggu ini, aku sama sekali tak pernah berkomunikasi dengan Khara. Entah itu lewat handphone maupun secara langsung menyapanya. Aku bingung mengapa cinta membuat seseorang lupa akan sahabat sejatinya. Apakah pantas seperti itu?? Aku sadar bahwa ketika kita mencintai seseorang,kita terkadang melupakan segalanya. Mungkin persahabatanku dengan Khara akan berakhir sampai disini. Dan apakah aku juga harus melupakan sahabatku sendiri dan memutuskan untuk mencari sesosok orang yang juga mencintaiku??
            Ketika itu,pulang sekolah aku mampir sebentar ke ruang perpustakaan. Disana aku melihat Khara duduk seorang diri. Tampaknya tidak sedang membaca buku,mengakses internet apalagi, ataupun mengerjakan tugas yang biasanya dilakukan oleh anak-anak jika berkunjung ke ruang perpustakaan. Terlihat Khara sedang duduk termenung sambil memegang handphonenya. Akupun memberanikan diri untuk menghampirinya. Ketika aku mendekat dan melihat wajah Khara, terlihat air matanya bercucuran jatuh di kedua pipinya. Akupun terkaget dan Kharapun juga terkaget melihat kedatangan aku yang tiba-tiba dan segera menghapus air matanya. “Khara??? Kenapa km nangis??” Khara tetap diam saja dan terus berusaha menghapus air matanya yang tiada henti terjatuh. “ Khara,, pliss cerita sama aku, kenapa km?? ada masalh apa??” tambahku lagi sambil berusaha menghapus air mata sahabatku ini dengan kedua ibu jari tanganku. Kharapun angkat bicara, “ Aku putus dengan Ryan !!” jawabnya sambil menatap mata ku penuh dengan kesedihan. “Apa?? Putus?? Kenapa??” Dalam hati aku sebenarnya senang mendengar Khara putus dengan Ryan karena dengan itu aku bisa jadi semakin dekat dengannya lebih dari sekedar sahabat. Tapi sejahat-jahatnya perasaan aku ini, aku sungguh merasakan kesedihan hati Khara. Aku tak tega melihat Khara menangis. Sambil menghela napas, Kharapun membalas, “ because of something “. Hanya kata-kata itu yang dijawab oleh Khara. Dan kembali mengalihkan pandangannya kearah ku sambil tersenyum kecil. Dalam hati aku berpikir masih saja Khara bisa tersenyum dalam bad mood seperti ini. “Emang kenapa sih?? Kalau ada masalah cerita sama aku. Apa mungkin dia khianatin kamu?? Biar aku cari saja dia !!” ucapku dan bangun dari tempat duduk dan ingin berusaha mencari Ryan. Namun Khara menarik tanganku dengan cepat dan berkata, “SSsstttt ,,, ini tow perpus, km jangan ribut donk! Hmmm.. “. Akupun kembali duduk disamping Khara. “Aku gaa pernah dikhianati kok, pokoknya ada sesuatu deehh.. tapi aku gaa bisa cerita sama km, karna ini masalah pribadi,Marlin “. Kharapun memeluk lengan kiriku sambil melepas senyuman kepadaku. “Iya, tapi aku gaa mau km tertutup gitu sama aku,Ra. Kita kan sahabatan, kenapa coba mesti tertutup. Km harus open kalau sedang ada masalah dengan orang lain. Hmmm kamu beda sekarang !” balasku dengan muka manyun seolah-olah tak bisa terima dengan perlakuan Khara dan merasa penasaran mengapa hubungan mereka mesti ditutup-tutupi. Kharapun mulai mernyabarkan sikap aku. “Marlin, sudahlah jangan dipikirin lagi, cwok itu banyak tau !! gaa dia doank!! Semangatt!!” balasnya dengan nada ceria. Dalam hati aku berbisik, “Iya Ra, aku adalah salah satunya. Cowok yang sekarang mengharap cintamu”.
            Sebulan telah berlalu. Pada akhirnya Khara sudah bisa melupakan Ryan yang sudah memutusinya. Ntah mengapa?? Sampai sekarang ini aku masih belum tahu. Tapi, whateverlah yang penting Khara kembali bersama dengan aku. Happy poouuulll !!1 ^,^
            Suatu sore,aku dan Khara jalan-jalan ke pantai. Kita berdua bersenang-senang sepuasnya. Jujur, ntah mengapa perasaan senang selalu ada jika aku bersama dengannya. Hanya dia yang mampu melakukan ini kepadaku. Apakah sekarang saatnya aku mengutarakan perasaanku sama Khara?. Saat itu, ketika kita tengah duduk bersantai di atas pasir putih pantai ini. “Ra, aku mau bilang sesuatu sama km,”. Khara menoleh sekilas ke arahku lalu melanjutkan memandang indahnya deburan ombak di pantai ini. “ Ada apa,Lin?? Serius banget kayaknya hehe” godanya. Sebelum aku ingin mengatakannya, rasanya jantung ini berdetak dengan kencangnya. Ohh My God, I’m Nervous !!! “Begini, Ra..” sambil menghela napas. “Hayooo cepetan jawab! Lama banget !!” tampakya Khara tak sabar menunggu kata-kataku. Semakin membuat aku gugup. Akhirnya akupun memberanikan diri ingin mengatakannya. “ Begini Ra, aku se….”. Kata-kataku terpotong ketika saat yang bersamaan Handphone Khara berbunyi. “Bentar ya, ada sms masuk” ucapnya sambil membuka pesan yang diterima. “ Siapa itu??” tanyaku dengan sedikit perasaan kesal dan jengkel. Karena gara-gara sms itu,kata-kataku jadi tertunda. “ Oh.. ini Mario!” jawabnya. “ Mario?? Siapa lagi tow,Ra”. Perasaanku sudah tak enak lagi rasanya. Kharapun memperlihatkan foto seorang laki-laki yang sepertinya tampan dan kulitnya yang putih. “Aku kenal dia lewat twitter lho ,, cakep kan ??’ jawabnya dengan perasaan senang dan tampak senyuman yang terpancar dari wajahnya. Mendengar itu semua, rasanya aku ingin berteriak sekencang-kencangnya atas rasa kekecewaanku. Aku tak menjawab sama sekali kata-kata Khara. Hanya diam dengan rasa kecewa dan ingin menangis, tapi aku harus menahannya di depan Khara. “ Maap ya, Lin aku belum sempat cerita, soalnya baru kenal beberapa minggu dan dia itu anaknya baik lho. Dan dia juga berasal dari kota kita. Anak kuliahan lagi, kuliah di Universitas ternama di kota kita. Keren kan??”. Khara tampak merasa senang tanpa menyadari apa sebenarnya sesungguhnya perasaan aku kepadanya. Tanpa mau menoleh Khara, aku pun membalas ucapan Khara. “ Oh,, bagus donk, tapi km harus tetap berhati-hati saja, jangan sampai km lagi patah hati, seperti yg km alamin sama Ryan” balasku dengan senyum memaksa kepadanya. Anggukan Khara yang polos itu,tampaknya mengerti dengan apa yang aku katakan. Dan diapun membalas,” Ok Marliinn, sahabat aku tersayang. Aku seneng deh punya sahabat kayak kamu,”. Dan diapun memeluk lenganku dan bersandar di pundakku. Hal ini memang sering dia lakukan kepadaku. Sepertinya Khara lupa dengan apa yang akan hendak aku bilang. Aku semakin merasa bahwa cintaku tak tertuju padamu. Dan aku hanya seorang sahabat di matamu. Air matapun mengalir membasahi pipiku,tanpa sepengetahuan Khara.

*************************
            TET… TET…TET.. Bel pulang pun berbunyi. Semua teman-temanku meninggalkan ruang kelas 11 IPB ini. Hanya aku dan Ryan yang masih berada di dalam kelas. Inilah kesempatan buat aku untuk menanyakan kepada Ryan apa alasan mereka putus. Akupun menghampiri Ryan dari arah belakang. “Ryan, gue boleh nanyak sesuatu gaa sm loe??”.Ryanpun menatap sekilas wajahku tanpa menjawab apa-apa sambil terus memasukkan buku-buku pelajaran dan laptopnya. “Ryan, gue nanyak nichh boleh gaa sich??”. Aku sedikit merasa kesal. Dan akhirnya Ryanpun angkat bicara. “Gue tau loe mw nanyak tentang gue napa putus sama Khara kan??” jawabnya langsung menebak perasaanku. Akupun mengangguk. “Gue yang mutusin kok, kenapa?? Loe mw mukul gue?? Silahkan !” tambahnya sambil menyodorkan pipi kanannya kearah tanganku. “Apa-apaan sih loe,, haha,, gue cuma nanyak baik-baik kok,sapa tau gue bisa nyatuin loe lagi. Tapi klo loe yg berkhianat, uupppsss sorry gue tanpa disodorin muka loe udah bonyok !”. Ryanpun berdiri dari tempat duduknya dan bertatap langsung dengan wajahku. “Asal loe tau ya, gini-gini gue gaa pernah khianatin cwe, dan ini sebenarnya gaa bisa dibicarakan sama loe, karna Khara gaa akan ngijinin gue cerita hal ini sama orang lain!”. Akupun semakin penasaran dengan permasalahan mereka. Aku berusaha membujuk Ryan agar mau menceritakannya. Ryan diam beberapa saat. Hanya helaan napasnya yang terdengar. “Ok, gue akan cerita, sebenarnya Khara gue putusin karena dia mengidap penyakit gagal ginjal!!”. Aku tercengang seketika mendengar kata-kata Ryan. “HAAAhh??? Bangsat loe Ryan!! Hanya gara-gara itu loe mutusin Khara!!”. Tak sadar aku memukul wajah Ryan. Ryan kaget dan badannya setengah terjatuh lalu dia segera bisa membangunkan dirinya sambil memegang pipinya sembari menahan rasa sakit akibat pukulan kerasku ke wajahnya. “Kenapa Khara gaa pernah cerita ke gue?? Dan kenapa loe mutusin dia??”. Aku hanya menunduk lemas dan tanpa terasa air mataku terjatuh. Rasa amarah meliputiku. Marah dengan Khara dan Ryan. Tak kuasa memendam rasa amarah  dan kesal ini, tanganku kupukulkan kearah meja Ryan,hingga tanganku berdarah. Ryan pun menyandarkan tubuhku di tembok. Dengan penuh rasa menyesal melihat perlakuanku yg seperti ini. “Marlin, kenapa loe begini?? Gue yg ngejalanin bukan loe!!”. Aku menatap tajam mata Ryan. “Loe gaa tau,, gue CINTAA SAMA KHARA!!!gue SAYANG SAMA KHARA!!!! Dan gue gaa mau ada orang yg nyakitin dia!!” seruku. “Apaaa????”. Ryan tampaknya hanya tertunduk dan menyesali perbuatannya yg sudah meninggalkan Khara hanya karena dia terkena penyakit gagal ginjal. “Marlin, gue tau gue salah banget sma Khara. Sejujurnya gue tau klo gue gaa pantas dibilang cwo baik buat dia. Gue egois jadi orang, gaa mau punya pacar penyakitan. Untuk itu gue mutusin untuk menjadi temannya dia. Tapi,gue nyesel udah ngelakuin itu!!!”. Tanpa terasa air mata Ryan membendung di matanya dan terjatuh membasahi pipinya. “Air mata pengecut!!! Seharusnya loe gaa berbuat sekeji itu sama dia!! Bukan ninggalin dia, tapi sayangi dia!!!”. Kata-kata itu terlontar keluar dari mulutku dan sekali lagi aku membogem wajah Ryan sampai terlihat babak belur. Ryan jatuh tak berdaya. Semakin membuat Ryan menyesal atas perlakuannya kepada Khara sambil menahan rasa sakit akibat pukulanku. Ryan tak melakukan perlawanan kepadaku. Hanya diam dan diam menahan rasa sakitnya.
“Masihkah ada harapan buat gue untuk kembali nyayangin Khara??’. Aku hanya terdiam mendengar pertanyaan Ryan. “Loe kan sahabatnya, pliss bantuin gue untuk bisa balikan dengan Khara!!”. Akupun melangkah ke depan dan melewati Ryan. “loe terlambat, Khara sudah PDKT dengan cwo lain !”. Ryan terkejut mendengar kata-kataku. “Haahhh??? Secepat itu?? Siapa cwo itu?? Marlin,loe kan sahabatnya loe pasti tau,pliss kasi tau gue!!”.
“Namanya Mario, salah satu anak Universitas ternama di kota kita!!” tegasku dan langsung pergi meninggalkan Ryan sendirian di ruang kelas tanpa pamit. Ryan sekilas menoleh kepergianku. “Mario?? Cwo gaa bener itu dekat dengan Khara?? Gue harus lindungin Khara sebelum terlambat dan gue akan nyatuin Khara dengan Marlin. Karena loe,Marlin yg memang pantas nerima cinta Khara, bukan gue!!”. Ucapnya dan diapun menyusul kepergian Marlin.
Saat itu juga,aku tak sanggup menghadapi permasalahn hidupku yang seperti ini. Aku tutup wajahku dengan boneka bantal kesayangan pemberian Khara sambil terus menangis. Tak tahan menahan semua ini. Apalagi mendengar Khara sedang mengidap penyakit gagal ginjal. Benar-benar terasa buntu pikiran ini. Akupun memutuskan untuk segera menemui Khara di rumahnya tanpa sempat mengganti pakaian putih abu-abuku ini.
            Sesampainya aku di rumah Khara. Kharapun langsung membukakan aku pintu. Dia tampaknya heran melihat mataku yang sembab dan tanganku yang berdarah akibat luka pukulan tadi. Diapun segera mengajak aku masuk ke dalam ruang tamunya yang kebetulan pada saat itu tak ada orang tua Khara di rumah karena sedang bisnis ke luar kota. “km kenapa sih?? Km habis berantem ya??”. Tanyanya penasaran sambil mengambilkanku obat dan perban. Akupun tak kuasa menahan kesedihanku pada Khara hingga aku langsung memeluk Khara. Dalam pelukannya itu aku menangis sejadi-jadinya. Sungguh aku tak kuasa mengetahui Khara mengidap penyakit gagal ginjal. Pelukan Khara terasa hangat tapi hatiku terasa dingin dan beku tak mampu mulutku berbicara. Khara terheran-terheran dengan sikapku ini. Akhirnya kamipun lepas dari pelukan. “Marlin, segitu besarnya ya masalh yang km hadapi?? Km cerita sama aku!”. Mulut ini masih saja terasa sulit untuk mengucapkan satu kata saja. Kharapun menenangkan aku dan mengambilkan aku minum. Dan akupun meminum air itu dengan dibantu oleh Khara. Akhirnya akupun angkat bicara. “Ra,km bener kena penyakit gagal ginjal??”. Khara terkejut mendengar pertanyaanku yang mendadak seperti itu. Hanya kebisuaan yang ada. Diam tanpa kata mungkin itulah suasana yang sedang terjadi saat ini. Hanya air mata yang menjawab pertanyaan itu. Aku tak menyangka Khara bisa tabah dan seceria hari-hari kemarin. Dan mampu menutupi hal itu dari aku, sahabatnya dari kecil. Aku tak mngerti mengapa ini bisa terjadi. Apakah mungkin orang lain lebih penting dari aku. Atau sahabat hanyalah sebuah ‘kata’?? Tapi tak mampu menghidupi kisah seseorang.
            “Iya Marlin, aku dua bulan sudah divonis penyakit seperti itu,dan aku harus menunggu seseorang yang mau ikhlas dan rela ngedonorin ginjalnya buat aku. Tapi, kalaupun itu tak ada, aku siap hidup dengan satu ginjal,Marlin. Ini mungkin sudah takdir dan aku selalu chek-up ke rumah sakit”. Aku tak kuasa rasanya mendengar penuturan Khara. Dia tahu perasaan aku saat ini. “Marlin, km jangan sedih, hidup ini kn sudah diatur sama Tuhan. Kamu sebagai sahabat aku yg paling the best dan aku sayang,plis don’t be sad,keep your smile. I’ll always beside you.” Kharapun melepaskan senyumannya sambil membalut tanganku yang luka. Senyuman itu, adalah senyuman yang terindah yang pernah aku lihat, karena senyuman itu menandakan suatu ketegaran sesosok Khara. Mungkin aku salah menilainya. Karena Khara tak pernah lupa dengan persahabatan kita, hanya saja dia tak ingin melihat orang lain menangis karena dia.
            Hari demi hari berlalu,aku ingin mengurangi perasaan cintaku pada Khara. Hanya bisa mengurangi,tapi tak mampu menghapus. Khara telah dengan Mario. Lelaki idamannya. Hanya saja,yang terpikir olehku saat ini adalah penyakit Khara. Aku sungguh merasakan kasian padanya. Aku rela melepas Khara dengan orang lain demi kebahagiannya.
            Sementara itu…………….
“Ra, km sayang kan sama aku?”. Kata-kata itu terlontar dari mulut Mario. Khara yang saat itu tengah berduan dengan Mario di kamar apartement milik Mario. Padahal hal ini tak pantas untuk dilakukan bagi pasangan yang belum menikah. Apalagi Khara masih duduk di SMA dan Mario adalah mahasiswa. “Aku sayang sama km,Mario. Km sudah mau menerima kekurangan aku ini. Penyakit aku. Bener kamu gaa akan ninggalin aku??”. Khara berbalik tanya kepada Mario. “Iya sayang, untuk itu makanya kita lakuin itu sebagai bukti cinta kita.” Mereka benar-benar terjebak dalam kasmaran. Khara tidak sadar dan tidak berpikir untuk kedua kalinya sebelum melakukan hal yang terlarang itu. Usia mereka masih belia. Tapi cinta membuat Khara lupa akan segalanya. “Because of love, you won’t think twice and you’d give it everything”. Maka hal yang tidak diinginkanpun akan terjdi pada kita.
            Saat itu, Ryan tengah bertamu ke rumah Khara. Dia ingin menyampaikan sesuatu kepada Khara tentang siapa sebenarnya Mario. Tapi mungkin itu sudah terlambat buat Ryan. Khara telah mengatakan yang sebenarnya kepada Ryan bahwa Mario adalah cinta sejatinya. “Apaaa??? Km telah melakukan itu dengan dia???”. Ryan sangat terpukul mendengar pengakuan Khara. Khara hanya mengangguk tanpa ada perasaan menyesal karena dia yakin kalau Mario adalah cinta sejatinya. “Km salah,Ra!!! Km salah!!! Kenapa semudah itu km serahkan kehormatanmu kepada Mario lelaki brengsek itu??? Dia gaa cinta sama km!!!”. Ryan terus mengulang-ulang kata-katanya dengan penuh air mata karena dia sudah terlambat memberitahu siapa sesungguhnya Mario itu. Tiba-tiba Khara menampar pipi Ryan. ‘PLAAAKK!!”. Ryan terkaget. “Aooww.. “. Rintihnya menahan rasa sakit akibat tamparan dari Khara. “Km yg cwok brengsek!!! Km udah ninggalin aku!! Km gaa pernah mau nerima aku karena aku sedang sakit!! padahal km tau kan aku saat itu cinta banget sm km!!” tegas Khara. Air matapun membasahi kedua pipinya. Ryanpun menghampiri Khara dan memeluknya dengan penuh rasa menyesal. “Ra, aku cinta sama km, maapkan aku. Tapi, km gaa tau klo sebenarnya Mario itu cwok gaa bener!!”. Ryanpun menceritakan siapa sebenarnya Mario itu kepada Khara. Mario adalah mantan kakak perempuan Ryan. Banyak cwek yg sudah jadi korban kenakalannya. Bermodalkan wajah tampan,dan ketika cwek-cwek sudah mau dengannya untuk diajak melakukan sesuatu yg terlarang itu,maka dia akan tinggalin cwek tersebut tanpa alasan. Kini Khara menangis penuh dengan rasa penyesalan yang amat sangat mendalam. “Ra, seharusnya km berpikir matang-matang untuk hal tersebut,, tapi aku gaa akan terlalu menyalahkanmu,, ini adalh pelajaran buatmu ke depan,, dan km tau, klo ada seseorang yg sangat mencintaimu melebihi cintaku padamu!”. Khara menoleh Ryan dengan penuh pertanyaan. “Siapa??”. Ryan menghela napasnya dan berkata, “Marlin,sahabatmu!” tegasnya.
            *************……….***************
            Sementara itu di tempat aku berada.........
Aku benar-benar tak sanggup menghadapi ini semua. Rasanya aku ingin menghilang dari kehidupan ini. Sebenarnya kebahagiaan selalu datang padaku, tapi ntah mengapa aku malah mencari kerumitan dalam hidup aku. Ini semua karena cinta. Tapi cinta yang terpendam selama ini yang menyiksa aku. Ingin aku akhiri kisah ini. apalagi setelah mendengar dari Ryan bahwa Khara telah berpacaran dengan cwok brengsek yang dia anggap sempurna. Dan Ryan juga telah mengatakan perasaan aku yg sebenarnya kepada Khara. Jika dipikir-pikir, coba saja Khara tidak hanya menilai seseorang dari tampilan luarnya pasti sesuatu yang tidak diinginkan tidak akan terjadi. Seperti apa yang telah terjadi pada dirinya kini, Khara rela melepas kehormatannya kepada lelaki itu,hanya karena cinta. Tak terpikir dua kali untuk tidak melakukannya. Tapi ya sudahlah, aku tak bisa berkata apa-apa. Aku yakin jika kita sudah terlanjur mencintai seseorang,apapun akan kita lakukan untuk dia, seperti aku yang tetap mencintaimu dengan keadaan kamu yang seperti ini. Mungkin aku kecewa padamu,Khara. Tapi aku akan tetap menerima kamu apa adanya, jika Tuhan mengijinkan aku nanti untuk bersamamu sampai akhir hayatku.
            Saat malam itu, aku berbaring di atas kasur kamarku sambil memandangi langit-langit kamarku. Di sana pikiranku melayang terus memikirkan keadaan Khara. Khara pasti menyesali perbuatannya. Memang penyesalan akan selalu datang belakangan. Akupun menoleh photo aku dan Khara yang terpajang di atas meja belajarku. Dan akupun mengambilnya sambil menangis aku melihat photo itu. “Khara,mungkinkah kita akan bisa bersama??”. Saat itu juga, Mbok Yum pembantuku memanggilku bahwa ada yang sedang mencari aku. “Siapa,mbok??”. Mbok Yum hanya tersenyum kepadaku. Aku heran dengan sikap pembantuku ini. Akupun segera menuju ke ruang tamu. Aku kaget seketika. Ketika melihat Khara yang mencari aku. Dan berdiri menatap aku penuh rasa kesedihan. “Khara??”. Aku pun mendekatinya. Dan sekarang aku telah berada di depan dia. Saling berpandangan,diam beberapa saat dan tanpa rencana,air mata Khara mengalir membasahi kedua pipinya. Aku tak tega melihat semua ini. Akupun memeluk Khara dengan penuh rasa sayang. Seperti aku sedang memeluk seorang pacar yang sangat aku cinta. Khara menangis di pelukan aku. Saat itu juga dia menyesali perbuatanya dengan Mario. “Maapin aku,Marlin. Aku salah, kamu pasti marah sama aku udah ngelakuin hal yang terlarang!!”. Khara seperti sedang mengadu kepada seorang saudara. Hanya saudara dan tak pernah menganggapku lebih.Akupun melepas pelukan itu. Rasa amarah dan kecewa menyatu dalam perasaanku. Khara menyadari hal itu. Dia hanya menunduk menangis penuh penyesalan. Dalam keadaan seperti ini, aku tak boleh egois, bagaimanapun keadaan Khara sekarang ini, aku harus terima. Itu bukan menjadi pertimbangan dalam bercinta.Ketika kita bertemu seseorang dalam keadaan seperti ini. Berkali-kali mereka bercinta pasti sesuatu yang terlarang pernah mereka lakukan. Ntah dengan pacar pertama,kedua,ketiga atau mungkin pada cinta yang terakhir seseorang itu akan melakukan sesuatu yang terlarang itu, tapi jika seseorang itu masih sanggup menjaga dirinya. Meskipun berkali-kali cinta datang padanya. Akupun kembali memeluk Khara.dan Khara membalas pelukanku. Aku memeluk Khara dengan dekapan yang begitu erat dan hangat seakan-akan aku tak mau melepas Khara. begitupun dengan Khara. “Aku akan selalu mencintaimu,Ra. Apapun itu aku akan ada di sampingmu. I love you just the way you are!! ”. Dan Kharapun membalas kata-kata itu dengan,”I love you too,Marlin. Although you find me not perfect, but I want you are my true love,”. Setelah mendengar kata-kata itu. Seperti mimpi buatku Khara telah menjadi bagian hidupku yang akan menemani hari-hariku. Akupun mencium manisnya bibir Khara. awalnya Khara ragu dan dia pun membalas ciuman itu. Dalam ciuman itu, aku dan Khara menangis. Menangis penuh bahagia tanpa mempedulikan sekitarnya.
………………………………………………
            Sebulan sudah aku menjalani cinta ini dengan Khara. pacarku tersayang. Tapi ada sesuatu yang membuat perasaanku sedih. Karena semakin hari, semakin berbahaya penyakit Khara. dia harus segera butuh transparansi ginjal dari orang lain, tapi sampai saat ini belum ada satupun yang rela mentransparansikan ginjalnya kepada Khara. Akupun memutuskan untuk mengunjungi rumah sakit tempat Khara chek-up setiap harinya,tanpa sepengetahuan Khara. Aku meminta dokter yang menangani penyakit Khara untuk mengijinkan aku menjadi pendonor ginjal buat Khara. Tapi dokter belum berani mengijinkannku melakukan seperti ini, sebelum ada pihak keluarga aku yang setuju. Karena ini terlalu berbahaya buat aku kedepan. Bagaimana bisa aku meminta ijin dengan kedua orangtuaku. Sejak duduk di bangku SMP,orangtua ku meninggal dunia karena kecelakaan pesawat. Semenjak itu aku dirawat oleh nenek dan kakekku di Belanda selama beberapa bulan. Setelah itu akupun memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan tinggal hanya dengan pembantuku,Mbok Yum yang sejak aku kecil sudah bekerja di rumahku. Akupun memutuskan untu menyuruh  Mbok Yum menjadi waliku sebagai ijin aku mendonorkan ginjalku kepada Khara. Mbok Yum awalnya sangat kaget dan sama sekali tak mau melakukan ini. Dengan bersusah payah aku merayu dia. Dan akhirnya diapun mau melakukan itu meski dengan rasa terpaksa dan teramat sedih. Akhirnya dokterpun mengijinkan aku mendonorkan ginjalku kepada Khara. Aku merasa bahagia dapat menolong Khara. Tapi aku meminta dokter untuk tidak meberitahukan hal ini kepada Khara. Kepada siapapun itu. Aku tak mau melihat Khara sedih apabila mengetahui hal ini. Dan lagi dua hari aku akan menjalani operasi pengangkatan ginjal aku.
            Saat itu aku sedang berduaan di taman belakang rumahku dengan Khara. Aku senang banget berada di samping Khara. Khara yang kini menjadi bagian dalam hidupku, menghapus cinta yang terpendam yang selama ini menyiksa aku. Saat itu aku memeluk Khara dari arah belakang. “Ra, aku sayang sama kamu,,,!”. Khara tersenyum mendengar kata-kataku. Segera dia berbalik badan dan bertatap muka denganku. “Km tau gaa, aku adalah orang yang paling beruntung bisa dicintai sama km,, km udah mau nerima segala kekurangan aku,Marlin,”. Setelah kata-kata itu terucap dari mulutnya,air mata Khara membendung di matanya. Akupun mencium kening Khara. “Iya, semua itu sudah di atur Khara, semoga kita bisa bersama selamanya. Karena aku gaa ingin lepas dari kamu,”. Khara hanya mengangguk dan tersenyum kepadaku. Akupun membalas senyuman itu. “Oh yaa,Marlin,, kata dokter sudah ada orang yg mau ngedonorin ginjalnya buat kau,”. Perasaan bahagia terpancar dalam diri Khara. Aku senang melihat Khara akan sehat kembali. Walaupun aku merahasiakan ini semua dari Khara,tapi inilah yang terbaik bagiku. Karena cintaku yang begitu dalam padanya, aku rela melakukan semua ini padanya,semasih aku bisa lakukan. Walaupun hal ini akan membahayakan kehidupanku kedepan. Dalam pikiranku, aku rela menahan sakit daripada aku mesti melihat orang yang aku cinta dalam keadaan sakit. “Oh yaa?? Bagus donk,Ra,”. Balasku seolah-olah aku tak tahu menahu soal ini. “Iya,Marlin,,, tapi sayang banget nih,,,”. Khara tidak melanjutkan kata-katanya. “Tapi kenapa,Ra??”balasku. Kharapun membalasnya,”Tapi dokter tidak mau memberitahu aku siapa yg udah rela ngedonorin ginjalnya buat aku, aku sedih jadinya aku gaa tau dan berterima kasih kepada orang itu,”. Kesedihanpun kini menghampiri perasaannya. Akupun berusaha menghiburnya. “Sudahlah,Ra,, km jng terlalu mikirin itu, mungkin orang itu gaa mau pamer,, dia sudah ikhlas melakukan itu semua. Km jng terlalu mikirin itu,yahh,, senyum donk ,,”. Khara pun tersenyum setelah mendengar kata-kataku. “Iya, tapi km jng cemburu yahh ada ginjal orang lain di tubuh aku,, hihi”. Godanya kepadaku. Setelah mendengar balasan yang seperti itu, perasaanku sangat lega. Aku bahagia melihat Khara bahagia. Akupun membalas godaan Khara sambil mencubit pipi Khara dengan gemasnya.
            Hari ini aku menjalani operasi pengangkatan ginjalku. Hal ini benar-benar mampu aku rahasiakan dari Khara. Sampai waktu tiga hari aku dirawat di rumah sakit. Sebenarnya dokter belum mengijinkan aku pulang,tapi aku memilih untuk dirawat di rumah saja untuk mengurangi rasa kecurigaan Khara denganku. Akupun mengatakan kepada Khara aku mengidap sakit maag biasa. Dan aku juga harus menyembunyikan bekas operasi aku darinya.
            Hari demi hari berlalu. Kini saatnya Khara akan menjalani operasi. Aku selalu senantiasa menemaninya. Berkat doa yang selalu aku panjatkan kepada Khara dari sebelum dan sesudah dilakukannya operasi,akhirnya operasipun berjalan dengan lancar. Betapa senang hatiku kini. Bagaimana tidak, ginjalku kini ada di dalam tubuh Khara. Meski bahaya akan datang menyerangku. Mungkin Tuhan berkata lain, pada akhirnya Khara tau akulah yang mendonorkan ginjal untuknya. Setelah dia membaca diary yang aku tulis seminggu setelah aku menjalani pengangkatan ginjalku. Khara sangat terpukul. Dia terlarut dalam kesedihan. Dia tidak menyangka ntah mengapa aku sampai rela mendonorkan ginjalku kepadanya, padahal hal itu nantinya akan membahayakan diriku. Berkali-kali aku menghiburnya. Ini semua aku lakukan hanya demi cinta. Karena cinta aku melakukan ini, aku sayang dan cinta sama Khara. Khara terus menangis dalam pelukanku. “Kenapa km mau ngelakuin ini,padahal aku kan bisa menunggu lebih sabar lagi orang yg mau ngedonorin ginjalnya sama aku tanpa harus km orangnya,”. Sedih yang tak kuasa untuk ditahan. Khara memeluk erat tubuhku. Dia tidak menginginkan aku melepaskan pelukan ini. “Ra, km jng menangis,, aku gpp kok, aku rela ngelakuin ini, aku masih kuat ketimbang km yg lemah,, “. Akupun menghapus air mata Khara dan mencium kening Khara. Setelah lama aku menghiburnya akhirnya Khara berhenti menangis,meskipun berat menerima ini semua.
            Aku akan selalu ada untukmu saat suka dan duka. Apapun yang terjadi akulah yang pertama akan melindungimu. Aku bahagia bisa melakukan hal ini sama kamu. Meski aku tahu,aku tak akan mampu bertahan lama dalam dunia ini. Karena selain aku memiliki satu ginjal,dokter telah memvonis aku telah mengidap penyakit kanker darah. Ntah kapan dan bagaimana penyakit itu mendadak menyerangku. Tapi aku tak pernah takut,karena ini semua sudah takdir dariNya. Dan aku berterima kasih kepadaNya, sebelum nantinya nafasku akan berhenti,kau telah mepertemukan dan mempersatukan aku dengan orang yang sangat aku sayang dan aku cinta,yaitu dia“Khara Kartika”.
“Because of love,…………………………………………………………………………

SEKIAN